Headline Post

Dilema Dunia Kepenulisan


DILEMA  DUNIA KEPENULISAN
“Antara Karya Berkualitas dan Kebutuhan Pasar”
 Oleh: Andik Irwanto


                Tidak dapat dipungkiri, Indonesia sebagai negara berkembang masih mengandalkan buku sebagai sebagai salah satu sumber informasi utama di samping media lain. Dunia kepenulisan/perbukuan sebagai payung yang mewadahi dua pelaku pokok-penerbit dan pembaca- belum mampu memposisikan buku sebagai media arus utama. Meski di tengah badai globalisasi di mana informasi serasa di genggaman tangan kita, ternyata kondisi perbukuan belumlah ‘teruji nyali’ untuk sekadar bertegur sapa secara mesra. Apalagi mengawinkan keduanya untuk bersinergi-mutualisme. Bukankah seharusnya ini menjadi sebuah tantangan “bersama” dunia kepenulisan/perbukuan, termasuk di dalamnya penerbit, penulis atau pembaca sebagai pelaku utama di dalamnya.

Namun kenyataannya dunia kepenulisan seolah masih gagap untuk nongkrong dan ngomong berdua untuk membahas ini semua. Karena dari semua pelaku, tidak atau masih belum bisa bersinergi satu sama lain meskipun dalam satu atap yang sama, sebagai anggota keluarga yang sama(baca: dunia kepenulisan). Ditengarai adanya gegalauan yang menggelayuti keduanya. Dilema di dunia kepenulisan masih menjadi semacam masalah, jika boleh kita menyebut masalah seperti masalah terjadinya dilema antara karya yang berkualitas dengan menyesuaikan kebutuhan pasar yang ada. Kedua persoalan dilematis ini menjadikan kedua pelaku utama yakni dunia penerbit dan penulis terdikotomi dalam idealisme masing-masing.

Dunia penerbitan akan mengacu dan melihat pada kebutuhan pasar yang  ada, sementara sebagai penulis harus menulis sesuai kapasitas intelektualitasnya. Dunia penerbitan harus mempertimbangkan antara karya yang berkualitas untuk bisa diterima dalam industri pasar. Di sisi lain, penulis harus mempertahankan idealisme kepenulisanya sebagai wujud eksistensinya. Bahkan, keduanya menjadi polemik yang mungkin memang tak begitu nampak dipermukaan tapi begitu terasa adanya. Ketika keduanya dihadapkan pada kondisi pasar yang telah terindustrialisasi. Semua mau tidak mau harus mengerucut pada kebutuhan pasar. 

Bagaimana harus mengambil sikap yang positif untuk menjembatani keduanya atau mensinergikan keduanya, untuk bersama membangun dunia perbukuan Indonesia di tengah  minat baca yang masih rendah?  Apa langkah yang harus diambil dunia penerbitan untuk tetap meramaikan dunia perbukuan di Indonesia? Apa yang harus diterapkan penulis untuk tetap berkarya dalam rel idealisme masing-masing? Bagaiamana nasib dunia perbukuan kita ke depan?

FAKTA PASAR PERBUKUAN SAAT INI
Dunia kepenulisan atau perbukuan memang masih banyak yang perlu dibenahi. Bagaimana dunia perbukuan Indonesia bisa bersaing dengan negara tetangga kita. Ini semua masih menjadi tantangan ke depan yang menjadi PR bersama. Belum lagi, di tengah kondisi sebagian besar masyarakat yang masih awam akan pentingnya membaca. Kebiasaan laten masyarakat kita yang masih rendah minat bacanya. termasuk anak-anak muda yang kini lebih gemar dengan media jejaring sosial, gadget. Di hadapkan lagi pada kondisi pasar perbukuan yang kadang naik turun, lesu dan kurang bergairah.

                Jumlah buku dan organisasi kepenulisan
                Dalam kurun lima tahun (1999 -2003) jumlah rata-rata judul buku baru yang diterbitkan setiap tahun sekitar 6000 judul (termasuk terjemahan). Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan jumlah judul buku baru yang diterbitkan di Malaysia(+ 8.500 judul), Korea(+ 45.000 judul), Jepang(+60.000 judul), dan Amerika (+ 90.000 judul). Rendahnya produksi buku di Indonesia tidak terlepas dari kurangnya naskah yang dihasilkan oleh penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur.
Dilihat dari jenisnya, buku-buku yang diterbitkan itu dapat digolongkan sebagai berikut:
PERSENTASE BUKU YANG DITERBITKAN DILIHAT DARI JENISNYA
NO
JENIS BUKU
JUMLAH
1
Buku sekolah
65 %
2
Buku agama
15 %
3
Buku perguruan tinggi
15 %
4
Buku lain
5 %
Sumber: Kongres Perbukuan Nasional I, 1995
 
                Meskipun data yang diacu bersumber dari dokumen Kongres Perbukuan tahun 1995, nampaknya komposisi jenis buku itu belum banyak berubah sampai dengan tahun sekarang. Komposisi jenis buku yang diterbitkan itu menunjukkan bahwa jenis buku yang paling banyak dihasilkan adalah untuk keperluan sekolah atau buku pelajaran, baru kemudian buku perguruan tinggi yang jumlahnya sama dengan buku agama. Keadaan ini menunjukkan bahwa penulis/pengarang, penerjemah, serta penerbit menganggap bahwa lembaga-lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) masih merupakan pasar/sasaran utama. Data ini juga memberikan indikasi, kebanyakan penulis/pengarang dan penerjemah buku pada umumnya masih berasal dari kalangan guru, dosen, dan ilmuan lainnya.


                Meskipun, dewasa ini penulis/pengarang belum dinyatakan sebagai profesi tersendiri, terdapat juga organisasi profesi di Indonesia seperti, Himpunan Pengarang Indonesia “Aksara”, Ikatan Pengarang Indonesia(Ipindo), Wanita Penulis Indonesia(WPI), dan Himpunan Penerjemah Indonesia(HPI), Jumlah anggota masing-masing organisasi adalah sebagai berikut.
JUMLAH ANGGOTA ORGANISASI PROFESI PENGARANG/PENULIS DAN PENERJEMAH
NO
NAMA ORGANISASI
JUMLAH
1
Himpunan Pengarang Indonesia “AKSARA
120
2
Ikatan Pengarang Indonesia (IPINDO)
116
3
Wanita Penulis Indonesia (WPI)
69
4
Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)
64
CatatanJumlah anggota masing-masing organisasi  diperoleh secara lisan dari ketua masing-masing organisasi, 2003. Tidak ada data resmi secara tertulis dan terdapat beberapa pengarang/penulis termasuk anggota lebih dari satu organisasi.

Di samping beberapa organisasi di atas terdapat juga organisasi lain seperti Forum Lingkar Pena(FLP) yang mungkin terbesar di Indonesia. Forum Sastra Wanita “Tamening” di Sumatra Barat dan beberapa himpunan penulis di daerah seperti di Yogyakarta, Bandung, dan Bengkulu. Akan tetapi, jumlah anggotanya tidak diketahui secara pasti. Selain itu, ada juga organisasi penulis yang mati seperti Persatuan Penulis Republik Indonesia (Peperindo). Walaupun masih ada sejumlah penulis/pengarang, penerjemah, dan penyadur yang tidak termasuk ke dalam salah satu organisasi di atas, data yang dikemukakan menunjukkan sangat kurangnya jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah melebihi 220 juta orang.

                Minat baca masih rendah
                Kompas melansir tentang kondisi  pasar perbukuan yang ada Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Kondisi saat ini tercatat satu buku dibaca sekitar 80.000 penduduk Indonesia.

                Angka produksi buku di Indonesia sampai saat ini masih belum membanggakan. "Kita masih setara dengan Malaysia dan Vietnam, padahal jumlah penduduk Indonesia lebih banyak. Kondisi ini tidak masuk akal," kata Direktur Eksekutif Kompas Gramedia, Suwandi Subrata, dalam jumpa pers usai pembukaan Gramedia Fair di Istora Senayan Jakarta, Rabu (29/2/2012).

                Suwandi menyebutkan, tahun 2011 tercatat produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul. Dari sisi oplah, Indonesia memang lebih tinggi jika dibandingkan Malaysia. Untuk penerbit besar, umumnya satu buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Adapun di Malaysia sekitar 1.500 eksemplar per buku, atau hampir sama dengan penerbit kecil di Indonesia.
                Penelitian UNESCO memperlihatkan kondisi minat baca bangsa Indonesia yang menyedihkan: “Mahasiswa di negara industri maju ternyata memiliki rata-rata membaca selama delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari. Kurangnya minat baca dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia saat ini yang baru sekitar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura. Indeks membaca di negara itu mencapai 0,45. 

                        Isu harga buku yang relatif mahal
                Harga buku yang saat ini terbilang relatif mahal. Menurut tulisan Masni dalam web UGM, beberapa tahun belakangan ini harga buku yang mahal menjadi rumor yang berkembang di kalangan mahasiswa dan masyarakat pencinta buku. Dengan mahalnya harga buku, maka mengakibatkan para konsumen buku terkadang harus merogok saku atau dompetnya lebih dalam untuk mendapatkan sebuah buku yang mereka ingin beli. Artinya bahwa buku yang berkembang saat ini di Indonesia memang terbilang cukup mahal untuk kalangan mahasiswa dan masyarakat pecinta buku.

                Faktor kedua adalah tidak seimbangnya antara harga buku dengan kualitas buku. Misalnya saja masyarakat sering menemukan buku dengan lembaran dan kualitas terbitan yang sama tetapi dengan perbedaan harga hingga berapa kali lipat. Tambahan lagi, jika masyarakat membandingkan harga antartoko buku, maka umumnya akan ditemukan beda harga yang cukup kontras antara toko buku ternama setingkat Gramedia yang relatif lebih mahal dari toko biasa. Belum lagi, buku-buku bajakan yang menyerbu di pasaran semakin memperburuk keadaan dunia perbukuan. 

Ini semua mungkin belumlah mengupas secara tuntas semua problem dunia perbukuan kita sekarang, tapi paling tidak mewakili keresahan dan kegalauan kita untuk bersama-sama berttanggung jawab membenahinya.


26 Nov’ 13






Belum ada Komentar untuk "Dilema Dunia Kepenulisan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel