Headline Post

Mozaik1

Mozaik 1

Aku hanya berucap syukur pada Tuhan. Itu saja. Selebihnya itu bukan kuasaku.
Seperti pagi tadi. Kala ‘nafsu‘ jengkelku beradu cepat dengan kemacetan mobil mobil itu. Kopaja tua, mobil mobil tua yang berserakan di tengah jalan membuat pagiku di luar ekspektasi umumnya. Di tambah kuda kuda besi bersama penunggang penunggangnya sangat tidak sabaran menikami waktu pagi. Aku juga heran sebegitu naifnya pagi ini. Dan lucunya pagi seperti (aku yakin) akan terulang lagi di pagi berikutnya. Kopaja, mobil, dan kuda besi bersama penunggangnya, berserakan kembali. Dan aku salah satu pemain yang terlibat aktif di dalamnya. Aku di pojok paling depan di belakang sopir angkot D 02 itu. Lalu membuka sedikit kacanya. Sekedar untuk mencuri oksigen pagi. Tapi aku juga percaya itu pilihan yang agak sedikit konyol, karena sepagi itu udara sudah sedemikian polutannya. Karena perjalanan pagi seperti sebuah ritual bagiku. Ritual yang membuatmu harus mengaitkan beberapa instrumen: kendaraan kendaraan tadi beserta pengendaranya, termasuk aku, --walau dalam hal ini pasif sebagai penumpang. Karena itu pula lah aku memasukkan suaraku, suara bising kendaraan, jeritan klakson, umpatan orang orang (yang katanya berpendidikan itu) sebagai instrumen ritualku. Pas ketika kepulan asap dan baunya, pun bau mulut orang orang itu sebagai hal yang mewarnai tiap pagi. Dan hampir tiap hari, tiap minggu sampai aku bercerita padamu.
Aku memilih duduk di belakang sopir karna itu posisi yang strategis. Tinggal menepuk pundak ketika harus menanyakan tempat atau arah. Tinggal bilang langsung tanpa suara keras kalau harus turun atau sampai. Setidaknya itu menghemat dari sisi suara, mengurangi polutan bau mulut tadi. Efektif dan efisien karena lebih dekat juga dengan pintu saat akan turun. Itu tips yang bagus yang seharusnya kau juga pilih.

‘‘Kenapa kamu diam, memandang‘‘ tanyaku padanya.
‘‘BT..‘‘jawabnya singkat. Sebuah jawaban yang seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan seperti itu.
‘‘Nih..‘‘kusodorkan tissu basah buatnya. ‘‘Lap tuh keringat dan coba buka sedikit kaca mobilnya..‘‘pintaku padanya, agak sedikit menyuruh. Dia hanya diam tanpa ekpresi yang mengenakan. Flat: kalau dia masih BT dalam perjalanan pagi ini.

Aku hanya memperhatikannya. Ketika ia mengusap dahinya dengan tissu. Kerudung yang membekap kepalanya membuat semakin cantik saja, batinku. Mungkin warna pink juga kali menambah semakin gimana gitu. Ditingkahi angin kecil yang menerobos dari lubang kaca mobil, membuat jilbabnya berayun secara aerodinamis. Momentum yang membuatku mau tak mau tersenyum memerhatikannya, bahkan maaf tetsenyum yang agak ketawa lucu-suka. Karena saat itulah ia akan berulangkali membetulkan kerudung pingnya tadi, meski pada saat yang sama itu tak memberi banyak perubahan pada kerudungnya. Kecuali ia menggeser tempat duduknya atau sedikit menutup kaca mobilnya. Tapi ia tidak memilih melakukan keduanya. Tapi justru ia malah memergokiku dan tau kalau aku sedang menatapnya.

‘‘kamu kenapa?, senyum-senyum ga jelas gitu?‘‘ tanyanya padaku.
‘‘Ga.. Gpp kok‘‘ jawabku. Sambil senyum senyum saja meski dia heran. Bodo amat batinku.
‘‘Turun..yuk, udah sampai nih‘‘ ajakku.

Rossa. Rossa Ameliana Sharapova. Tebak kenapa namanya beraneka varian seperti itu. Sebelum benar tau darinya aku menebak dari akhiran Sharapova. Pasti itu nama orang luar, asing. Benar, Sharapova adalah nama petenis asal Rusia. Maria Sharapova, dia penggemar dan fans fanatik petenis pemenang Grand Slam itu. Itu yang aku tahu dari varian namanya, itu pun ia memaksakan menambahkan diri di belakang nama aslinya. Lucu.
Setelah mengenalnya, baru tempo hari ia mempresentasikan perihal namanya, Rossa Ameliana. Rossa karna ibunya dulu penyuka bunga rose dan Ameliana adalah nama tengah dari nama ibunya. Campuran Jawa-Batak peranakan. Tapi lebih kental ke jawa karena ayahnya Jawa. Besar di Kalimantan dari umur dua tahun, pindah ke sini semenjak ayahnya meninggal saat ia kelas 2 SMA. Anak pertama perempuan dan adiknya laki laki. Pengakuannya padaku setelah 2 bulan mengenalnya.
Satu yang membuatku masih bingung, ia memilih menempatkan aku sebagai seseorang yang memiliki akses lebih untuk mencurahkan segala aspek hidupnya. Bahkan secara tak sadar saya seolah diberi kewenangan untuk terlibat dalam radius kepribadiaanya. Hmmm...

‘‘Seharusnya kamu memilih orang seperti itu, Ross...?!‘‘ candaku padanya, sambil menunjuk seorang laki laki gagah.
‘‘kamu..tau apa, soal memilih siapa dan untuk apa, Ga..‘‘ katanya memanggil namaku. Ega.
‘‘Taukah kamu, aku sangat mengagumi almarhum ayahku. Dan itu pula yang menguatkanku..bahkan aku yakin ibuku juga merasakan hal yang sama‘‘ dia mencoba menjelaskan padaku.
‘‘Apa yang kamu kagumi dari ayahmu, sih..sampai segitunya?‘‘ tanyaku, sambil membukakan eskrim buatnya.
‘‘Dari..ayahku lah aku menemukan sepuluh kriteria laki laki sejati hehe.., tapi ini serius lho!‘‘ sambil menjilat Magnum coklatnya.
‘‘Sok..iye banget‘‘ kataku. Dalam hati penasaran. ‘‘apa aja sepuluh itu, Ross...siapa tau aku jadi seperti ayahmu hihiii..‘‘ candaku membuatnya lebih cair dalam suasanan.
‘‘Lain kali aja yaah, aku jelasin, aku buru buru. Tapi ibuku berpesan padaku 2 hal tentang lelaki.‘‘katanya dalam tempo agak serius.
‘‘Apa...itu‘‘tanyaku sedikit tak sabar.
Dia hanya tersenyum sambil mengalungkan tas kecilnya. Sambil melirik jam di lengan kirinya.
‘‘Pertama, lelaki yang harus kau pilih kata ibuku, yang pertama tama temui kebijaksanaan ada padanya bukan kepintarannya..Kedua, yang kamu pegang dari laki laki itu bukan omongannya dulu, tapi sikap yang ia tampilkan dari prinsipnya‘‘.

Dia tersenyum hendak pergi. Sementara aku mematung mencerna kata apa yang harus aku ucapkan.
‘‘...karena kepintaran tanpa diselimuti kebijaksanaan hanyalah retorika belaka. Pun perkataan yang tak sesuai dengan sikap hanya akan berhenti jadi pembenaran belaka..‘‘katanya mengakhiri.

Dia berlalu meninggalkanku begitu saja. Namun juga menancapkanku pemahaman sekaligus pilihan yang memaksaku menyelam ke dasar sikap sikapku padanya selama ini. Bukan sebagai manusia saja. Tapi sebagai lelaki.

Belum ada Komentar untuk "Mozaik1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel